Penulisan Jurnalistik Sastra, Jurnalisme Gaya Baru
Menulis itu sama dengan bertutur, yakni mengungkapkan, menceritakan, menyampaikan ulang gagasan, ide, pikiran, ataupun konsep kepada orang atau pihak lain. Jika bertutur mengunakan bahasa lisan, maka menulis menggunakan bahasa tulis. Menulis untuk konsumsi publik atau orang banyak pada media massa, membutuhkan pengetahuan penulisan jurnalistik yang baik, agar apa yang ditulis memiliki obyektivitas, keakuratan dan kebenaran.
Padat berisi, ringkas dan jelas, begitulah biasanya isi dari penulisan jurnalistik. Karena memang tujuan mayoritas dari sebuah surat kabar atau majalah adalah memberikan informasi dan berita dengan cepat, beraneka, singkat tapi padat kepada pembacanya. Sehingga para wartawan atau jurnalis melakukan penulisan dengan semangat yang sama.
Tetapi kemudian berkembanglah sebuah gaya penulisan jurnalistik yang berbeda, the new journalism (jurnalisme baru). Gaya penulisan jurnalisme satrawi yang enak dibaca dan diulas lebih mendalam dengan tetap menyajikan fakta sesuai data dan riset yang dilakukan si penulisnya. Inilah genre penulisan jurnalistik terbaru yang memberi nafas berbeda bagi dunia jurnalistik.
Sejarah Penulisan Jurnalistik Sastra
Pada tahun 1960, seorang wartawan sekaligus novelis, Tom Wolfe mengenalkan pada dunia tentang bentuk penulisan jurnalistik dengan gaya sastrawi, yang hasilnya menjadi lebih enak dibaca, dan lebih meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Berikutnya, pada 1973 Tom Wolfe dan E.W. Johnson menjadi editor penerbitan buku antologi narasi-narasi jurnalistik terkemuka kala itu, yang diberi judul The new Journalism.
Banyak sebutan untuk penulisan jurnalistik gaya baru ini. Tetapi di Indonesia lebih dikenal dengan nama Jurnalisme Sastra. Salah satu majalah yang berorientasi pada jurnalistik sastra adalah Pantau. Melalui majalah inilah orang Melayu, khususnya Indonesia mengenal jurnalisme sastra atau jurnalistik bergaya naratif.
Jurnalisme Sastra Tetap Berdasar Fakta
Bukan berarti karena disebut jurnalisme sastra, maka penulisan jurnalistik bergaya naratif ini boleh menggunakan data yang asal-asalan atau bahkan dibumbui imajinasi. Apapun bentuknya, kegiatan jurnalistik itu harus berdasar fakta, fakta, dan fakta, tidak lain.
Jurnalisme sastra pun tidaklah sama dengan novel atau fiksi yang berdasarkan kisah nyata. Sebab yang dikedepankan disini adalah pelaporan fakta berita, hanya memang disajikan lebih mendalam. Maksudnya, ini bukan penulisan jurnalistik yang hanya sekedar melaporkan seseorang melakukan apa, tetapi juga masuk ke ranah psikologis yang bersangkutan dan menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu. Laporannya harus panjang, utuh (tidak terpecah ke dalam beberapa laporan, dan menyentuh. Sebab di dalamnya ada fakta, ada karakter, ada babak, ada adegan, dan ada konflik.
Jurnalisme sastra juga bukan reportase yang ditulis dengan kata yang puitis, sebab memang seringkali orang salah menilai. Narasi memang boleh puitis, tetapi tidak semua tulisan yang berbentuk prosa dan puitis adalah narasi.
Fakta dalam jurnalisme sastra pun harus diverifikasi kebenarannya, sebab verifikasi adalah inti dari kegiatan jurnalistik yang obyektif dan berdasar fakta.
Hal-hal yang Wajib Diperhatikan
Selain harus berdasarkan fakta, penulisan jurnalistik sastra juga harus memiliki sebuah konflik. Tetapi konflik itu bukan sebuah khayalan atau imaji dari sang penulis. Konflik itu harus nyata sesuai fakta di lapangan. Mengapa konflik dibutuhkan dalam penulisan ini, sebab tulisan yang panjang membutuhkan konflik untuk mempertahankan daya tariknya.
Sengketa atau pertikaian antar kelompok, konflik pribadi seseorang dengan hati nuraninya, atau pertentangan nilai-nilai di masyarakat dengan seseorang. Intinya, narasi jurnalistik ini harus dibangun dengan konflik yang menjadi ruhnya.
Selain itu harus terdapat pula karakter. Karakter-karakter merupakan pengikat cerita, karakter utama yang ditulis sebaiknya adalah orang yang terlibat sangat erat dalam konflik. Untuk mendukung penulisan karakter ini, Anda harus memiliki akses untuk para karakter. Bisa berupa foto, hasil wawancara, dokumen-dokumen, buku harian, kerabat, gambar, musuh, kawan, korespondensi dan lain sebagainya.
Yang berikutnya adalah emosi. Kemunculan emosi dalam narasi jurnalisme sastra bukan juga dibangun dari adanya khayali tingkat tinggi dari si penulis. Tetapi emosi nyata yang terdapat dalam konflik atau pergulatan batin si tokoh yang menjadi karakter. Bisa berupa kekaguman, kebencian, kesedihan, pengkhianatan atau rasa cinta.
Terdapat perjalanan waktu dalam sebuah laporan jurnalistik sastra. Penulisannya, pengumpulan data yang berdasarkan fakta itu akan memakan waktu yang bukan hanya seminggu, tetapi bisa berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Narasi serupa film video yang berputar, bukan hanya seperti foto sekali jepret jadi.
Yang paling penting lagi adalah unsur kebaruan. Dengan menggeser sedikit saja sudut pandang sebuah peristiwa dari sisi yang berbeda, maka kebaruan itu muncul dengan sendirinya.
Membuat penulisan jurnalistik sastra harus memiliki kekuatan reportase dan naratif, yang terjalin dalam sebuah bentuk laporan yang mendalam, memikat dan menggigit. Bagi saya, ini adalah sebentuk tulisan jurnalistik yang harus menyisakan bekas untuk dijadikan renungan. Bukan hanya sekedar berita yang sekali baca kemudian dibuang dan jadi bungkus kacang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar