Legenda Laksamana Cheng Hoo
Pada tahun 1405, sebagai panglima armada muslim yang gigih dan saleh, Laksamana Cheng Hoo memulai pelayarannya secara berturut-turut dengan tujuh kali mengarungi Samudra Hindia. Selama 28 tahun (1405 – 1433), ia telah memimpin awak kapal berjumlah lebih dari 27.800 orang yang terlatih sempurna dan disiplin. Misi utamanya adalah melangsungkan dan memperbanyak kunjungan muhibah yang timbal balik antara Tiongkok dengan negara-negara kerajaan di Asia-Afrika dan sekitarnya, mempererat hubungan kebudayaan dan perdagangan antar bangsa, merintis dan memperlancar jalur dan frekuensi lalu lintas pelayaran di antara kawasan tersebut.
Armada ini telah berhasil merintis jalur pelayaran langsung dari Tiongkok ke Samudra Hindia, Laut Merah, dan pantai timur Benua Afrika. Pelayarannya telah menelusuri lebih dari 50 negara kerajaan dan region/wilayah yang dikunjunginya. Laksamana Cheng Hoo telah membuka 40 lebih rute pelayaran baru antar benua, negara dan bangsa. Ia telah menempuh lebih dari 160.000 mil laut atau sama dengan 296.000 km lebih. Ia telah berhasil mengumpulkan berbagai data seperti peta dan skema pelayaran yang signifikan sebagai gambar peta pertama di dunia yang akhirnya turut memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi maritim di bumi, dan menjadikannya sebagai sumbangan terbesar ilmu pengetahuan maritim. Di bawah naungan Laksamana Cheng Hoo, sejarah pembaruan dan kemajuan navigasi pelayaran dunia mencapai puncaknya pada saat itu.
Laksamana Cheng Hoo telah mencurahkan segenap jiwa raganya dalam ilmu navigasi pelayaran, dan berhasil merintis “Jalan Sutera dan Keramik”, memantapkan hubungan saling pengertian dan persahabatan antara Tiongkok dengan berbagai negara kerajaan di Samudera Hindia, serta meningkatkan kemakmuran dan perkembangan ekonomi antar Bandar atau pelabuhan dan kota-kota di Asia Tenggara. Laksamana Cheng Hoo juga pandai menengahi dan mengambil tindakan atas pertikaian tentang masalah agama, seperti yang terjadi pada anak buah kapalnya beratus-ratus tahun silam.
Kisah Laksamana Cheng Hoo sebagai Kasim Sam Po “tujuh kali mengarungi Samudera Hindia” pada kurang lebih 600 tahun silam merupakan prestasi yang luar biasa sepanjang sejarah. Di antara negara-negara kerajaan yang pernah dikunjunginya di nusantara adalah Majapahit di Jawa, Samboja di Palembang, Samudera Pasai di Aceh, Semarang di Jawa Tengah, dan Surabaya di Jawa Timur merupakan tempat bandar/persinggahan terpenting yang selalu dikunjunginya.
Akhirnya, nama Muhammad Cheng Hoo dijadikan nama masjid pertama di Indonesia yang terletak di Surabaya dan berarsitektur Tiongkok untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo sebagai bentuk penghormatan kaum muslim, khususnya muslim Tionghoa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar