Ndoleki

23 Mar 2012

membuat butik sepatu

Membuat Butik Sepatu dengan Gerobak
Pilihan membuat usaha memang beragam. Di tengah persaingan usaha yang menggila, kita harus pintar membuat usaha yang awalnya hanya biasa-biasa saja menjadi usaha yang unik, mudah, profitable, dan menarik. Salah satu ide usaha yang hendak saya lontarkan di sini adalah butik sepatu dengan gerobak. Haahh???Butik sepatu dengan gerobak, sepertinya adalah sesuatu yang aneh didengar. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan.
Prinsip pertama memulai usaha adalah lakukan saja dulu, jangan berpikir tentang hal-hal yang lainnya! Tidak jarang orang yang hendak memulai usaha atau berbisnis memiliki banyak ketakutan dan keraguan. Bahkan seorang pengusaha tingkat nasional yang selalu bercelana pendek, Bob Sadino mengatakan bahwa untuk menjalankan usaha, ia tidak memerlukan rencana. Ia hanya butuh bermimpi, dan langsung mewujudkan mimpi itu dengan memulai melakukannya saja.
Meskipun demikian, tidak ada salahnya pula jika kita memiliki sedikit konsep dan manajerial yang baik untuk berbisnis. Yang perlu diingat hanya itu tadi, jangan hanya berencana tetapi langsung lakukan! Membuat butik sepatu dengan gerobak adalah ide usaha kita kali ini.
Tahap Awal Usaha Butik Sepatu Gerobak
Niat awal adalah keberanian menanggung, baik itu keuntungan ataupun kerugian. Sehingga dengan modal nekat pun kita dapat memulai usaha butik sepatu ini. Beberapa hal yang harus kita perhatikan adalah:
1.    Tentukan jenis sepatu yang hendak kita jual. Dengan spesifikasi khusus yang menarik, butik kita lebih terlihat berkualitas meski, berjualannya dengan gerobak. Misalnya, kita pilih saja untuk berjualan sepatu kanvas lukis tangan yang sekarang ini sedang trend. Atau pilih berjualan sepatu yang handmade dengan ukuran dan model khusus yang diinginkan si pemakainya. Jadi sepasang sepatu hanya untuk satu pelanggan alias limited edition.
2.    Setelah itu, kita harus punya pemasok sepatu yang dapat dipercaya, barangnya berkualitas dan murah, atau pemasok bahan baku untuk pembuatannya, termasuk pekerja dan penjahitnya, jika kita hendak membuat sendiri sepatu-sepatu itu.
3.    Langkah berikutnya kita buat gerobak yang eye catching, gaul dan keren. Pilih warna-warna mencolok dengan gambar-gambar yang bagus.
4.    Pilih juga nama kios dan branded sepatu yang  mudah diingat, tidak susah diucapkan ataupun ditulis. Tujuannya agar merek sepatu kita terus menempel di kepala si pelanggan.
5.    Pilih lokasi berjualan yang sesuai budget, tapi jangan di badan jalan atau di trotoar. Karena itu merugikan diri sendiri dan orang lain. Kita bisa memilih berjualan di area parkir depan swalayan atau pusat perbelanjaan. Atau di halaman depan pasar-pasar modern. Tentunya dengan ijin dan membayar uang sewa kepada pengelola tempatnya.
6.    Patuhi semua aturan hukum dan administrasi untuk usaha butik sepatu kita, termasuk jika kita harus membayar pajak, agar usaha yang kita buat dapat terus bertahan dan berkembang baik. Tidak ingin kan dikejar-kejar satpol PP gara-gara menyalahi aturan pemakaian ruang publik, hanya karena ingin mengirit biaya sewa tempat.
7.    Jika ternyata kesulitan membuat gerobak ataupun tidak ada modal untuk menyewa tempat meski hanya di area parkir. Jangan berkecil hati, kita dapat membuat tempat berjualan via dunia maya atau membuat butik sepatu online. Memang, tetap membutuhkan modal dan biaya, tetapi bisa jadi lebih ringan daripada sewa tempat dan bikin gerobak.
Membuat butik sepatu secara nyata atau berjualan secara online, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita lah yang harus pandai mengatasi kekurangan dari masing-masing cara tersebut di atas. Atau untuk menentukan hendak berjualan online atau tidak, kita bertanya saja pada diri sendiri, lebih bisa mengelola yang online atau offline. Apapun jawabannya, satu pesan dari saya. Jangan mudah menyerah, berjuang dan terus berjuang. Karena orang-orang yang merasakan kemenangan adalah orang-orang yang berjuang. Selamat berjualan! 
  

20 Mar 2012

Cerpen: [aku anak]

[ aku anak ]

Satu malam dengan Long Allen memaksaku berteriak pada pasir, “Hentikan semua kenangan! Aku membencinya, seperti halnya kemarahan yang mengingkariku!”. Waktu ini kembali lagi, tanpa bisik dan tanpa wangi tanah basah sehabis hujan. Setenggak Stout, setenggak Cassberg ditambah sebotol Martil mungkin akan benar-benar membantuku membuang nyawa.
Batu apung putih tiba-tiba berserak dalam kepala, pening.
“Lakukan sesuatu, Rikar! Nyawamu harus diselamatkan. Anakmu, Yayang menunggu di rumah. Dia sakit, dia sedang sakit....”. Dengan penatku yang sekarang, aku akan bersedia hidup di Najaf, sebuah kota suci bagi kelompok syiah –yang paling merasakan kerasnya tekanan rezim Saddam–, setiap hari tanpa ragu bersedia menunggu mati. Ternyata benar, menjadi manusia itu lelah.
Padi-padi di taman belakang yang tambah hari tambah merunduk saling menudingkan jari dan aku menciumnya, mencium kerinduan itu. Tubuhku ringan bagai lajeungan. Pasir putih ini seperti uap air yang tinggal setitik-setitik di bulir-bulir padi. “Hei, kereta api tua yang lelah. Kau kah yang membuat padi-padi berpesta di pantai?”. Kenapa malam tidak membuat logikaku lebih otoriter, jawaban bintang untukku hanya sebuah senyuman zonder kata.
 “Apa maunya langit, musik yang merubung kafe-kafe itu kenapa bisa sampai kemari?. Lelap, lelaplah buih. Tak perlu air laut memaksamu berjaga, membasahi pantai. Hari ini aku mabuk. Mari, angin! Ayo, nyiur! Mati bersamaku!!!”.
Lelah, kosong.
**

“Rikar, pulanglah, anakmu sakit. Dia kurus, pucat dan sedih. Fotomu selalu dilihatnya setiap hari. Yayang kangen kamu, pulanglah dulu!”
“Tak bisa, Ma. Rikar banyak pekerjaan di sini. Kalau tidak kerja sehari, tak akan aku dapat uang. Lagipula akek-akek dari Singapura banyak yang datang minggu-minggu ini. Kesempatan untuk menambah uang dengan menemani mereka. Ma, tolong jaga saja Yayang, bawa dia ke dokter! Nanti, aku kirimi uang lagi. Sudah ya, Ma. Peluk dan ciumkan Yayang buatku.”
Kumatikan N6110-ku. Hhhh, lagi-lagi kabar buruk dari rumah. Entah, kapan kelana-kelana nyata yang kelam ini selesai. Rasanya, aku butuh segelas Strobe.
“Rikar! Apa yang kau perbuat?! Hentikan! Jangan minum lagi, kau ingin mati?!”
“Ha...ya, aku ingin mati. Andai mati itu bukan sebuah tanggung jawab, aku ingin mati sekarang juga!”
“Rikar, kalau Om A Hong sampai tahu kau mabuk, bisa dipecat kau! Kemarin mabuk, sekarang mabuk lagi. Hentikan, Rikar!”
“Hei....Hei....., kembalikan gelas itu, isinya terlalu mahal untuk dibuang ke lantai!”
“Lalu, mengapa duitmu kau habiskan bersama alkohol busuk ini? Seharusnya uangmu kau berikan keluargamu!”
“Keluarga? Keluarga yang mana? Anakku, Yayang yang sakit-sakitan itu, atau mamaku yang punya hutang ratusan juta dan dicari-cari orang itu, atau papaku yang sudah jadi pengangguran karena malas dan menelantarkan empat orang anaknya begitu saja. Atau maksudmu, keluarga besar dari mama-papaku yang merasa sebagai priyayi-priyayi suci itu. Ha...ha....ha...., bisa saja kau, Mona.”
“Sudah, ayo kembali ke mess, kau terlalu banyak bicara!”
“Aaaah, tidak! Tidaaak, Mona. Biarkan aku sendiri, ini hidupku bukan hidupmu!”
“Rikar, aku tahu ini hidupmu tapi di hidupmu pun ada hidup orang lain. Anakmu Rikar, anakmu!”
“Anak, anaaakk! Kalian semua ribut tentang anak. Aku pun seorang anak, lalu perduli apa papa-mamaku pada anaknya ini? Dimana keperdulian mereka sekarang? Dimana?”
“Memang kau ini aneh, Rikar. Kau baby besar tapi punya baby kecil. Harusnya kau masih bersekolah dan tidak bekerja di sini melayani akek-akek!”
“Tak usah banyak kata! Heiii, kembalikan gelas itu! Heeii....!”
**

Meja dengan meja memang tidak pernah saling bercakap, kehendak remang yang menjadi cenayang mereka tersipu. Dan, kemudian seolah menit tak bergegas. Kaki-kaki meja yang coklat kehitaman itu menjelma semut-semut yang berusaha melepaskan diri dengan berlompatan satu persatu, merobohkan  ulir-ulir urat kayu yang terdiri dari ribuan semut-semut hitam yang terus menggemakan diri untuk berkata: “Lepaskan aku ! Bebaskan aku !”.
Kini meja itu tak bisa lagi berdiri karena keempat kakinya telah habis. Keempat kaki meja yang bernyawa itu sekarang telah menuju kebebasannya, kebebasan yang tidak henti pula memukul-mukul gendang nuraniku dan  semakin mengiang di labirin telinga terus berpusar menyakiti otak tanpa belas kasihan. Bayang-bayang hitam tercipta kemudian  membunuh seekor kunang-kunang dengan bengis, kunang-kunang itu terkubur hidup-hidup, mati di hadapan otakku sendiri.
Lagi, lelah.
“Kak....., Kakak. Kakak melamun? Tolong beri saya sedikit uang, Kak! Saya belum makan dua hari.”
Asing, kosong, enggan namun kutoleh juga suara itu.”Taher...?”. Ya, anak ini mirip Taher, adikku yang masih SMP. Sesenyap aroma kota kelahiranku  melintas cepat, berikutnya hilang.
“Apa? Apa, dik? Kau minta apa?”
“Uang, Kak. Beri aku sedikit uang untuk makan.”
“Kau belum makan?”!
“Belum, Kak.”
“Tunggulah, sebentar. Pak Wi, mi rebus dengan telor satu ya ?”
Terdengar sahutan mengiyakan dari jauh.
“Duduklah sini dulu, dik!”
“Ya, Kak.”
“Kau tidak sekolah? Dimana bapak-ibumu? Kau punya rumah?”
“Saya memang tidak sekolah, Kak. Tak ada biaya, buat makan saja carinya susah apalagi untuk sekolah! Saya tak pernah punya bapak. Ibu tidur, istirahat untuk kerja nanti malam. Kami biasa tidur di bawah jembatan pertigaan sana itu, Kak.”
Penatku suram. “Aku merasa, akulah yang paling menderita tapi ternyata......, Hhhhh!.”
“Kak, Kak mi rebusnya kumakan ya?”
“Oh, iya, ya. Makanlah, kenyangkan perutmu!”
Mengapa hidup tidak juga meng-iya-kan kami, “Aku anak, dia anak, mereka yang itu juga anak...”. Lusa kemarin, daun ialah daun. Sejam yang lalu, daun itu mengalir menyapa setiap batu dengan sunyi. Saat ini, daun yang sama masih juga dengan sunyi, menguap larut dipeluk udara. Adalah daun itu kami....
“Kakak, aku sudah selesai makan. Terima kasih, Kak. Aku pergi dulu!”
“Hei, hei, nanti dulu! Bawa mi rebus mentah ini, masaklah di rumahmu bila kau lapar lagi dan uang ini, jangan berikan pada preman, simpanlah sendiri! Hati-hati!”
“Waaaah, terima kasih, Kak. Terima kasih...”
Sekecup hangat tertinggal di punggung tanganku. “Dia benar-benar persis Taher, yang selalu mencium tanganku tiap berpamitan pergi sekolah”.  “Taher, Shala, Odi–adik-adikku. Apakah kalian juga sudah makan?”.
Capekku mengancam mata, memintanya untuk tidur. Siang tenggelam dalam masing-masing selimut penghuni mess ini sampai nanti, saat malam berbisik membangunkan kami, para pramuria.

* *** *

Dari atas timbunan pasir ini, kembaraku......
Suara-suara bising pilar gedung yang berdentingan dengan deru asap kendaraan, tetap. Memuakkan. Lagi, ini amarahku, aku harus bermain-main dengan kubangan lumpur di bekas galian bangunan yang tak kunjung selesai. Dengan pasir-batu yang tak lagi ramah, yang tiga hari kemarin membuat mata temanku luka. Kadang bosan itu tak berguna, karena hanya berisi keluhan-keluhan yang membesarkan anak parasit bernama pasrah. Harapan pun menjadi seperti mata kanan dan kiri bunglon yang dapat bergerak-gerak sendiri. Resah.
Aku bukan kecewa dengan bertambahnya gedung-gedung tinggi yang bagus-bagus itu, yang mengusir rumah-rumah dan sawah-ladang kami, yang membuang tanah lapang tempat kami bermain bola, petak umpet, gobak sodor, patil lele, engkle dan loncat tali. Dimana purnama yang bulat penuh itu pun tersenyum sesekali, ketika kami– anak-anak tanah lapang memergoki pasangan-pasangan mesra di bawah pohon cemara yang banyak mengelilingi tanah lapang kami. Ahhh, lelah aku dengan mainan kubangan lumpur ini. Tapi selain kubangan lumpur ini aku tidak punya lagi mainan lainnya. Tidak juga mainan-mainan mahal di layar-layar tv atau komputer itu, entah apa namanya.
Kalau, aku tidak berteriak pada gedung-gedung tinggi itu, pada kubangan ini, pada kumpulan kumuh rumah kami yang semakin terpinggir dan sering banjir itu, pada suara sumbang kami yang lelah tertawa di antara asap-asap pabrik dan kendara. Lalu pada siapa aku harus berteriaaaak..........
“Kak Watu, Kak Watu dipanggil emak, disuruh  beli air bersih ke rumah  Pak Zulfi buat masak!”
“Kamu ini kalo nggak teriak-teriak, nggak enak ya? Dasar cucakrawa bayi, ribut banget!”
“Kak Watu! Cepat nanti emak marah!”
“Ya, ya, ribut!”

 **

b a t u  II
bayiku manis
yang berjenis-jenis
tunggu waktu teriris
tanpa meringis
di sana
bocah cowokku
memegang batu
pandangnya menuju
ke hutan milik sang waktu
bocah cewekku
bercita-cita lugu
untuk jadi ibu
sedang belajar memasak batu.

Lusa kemarin, kutemukan puisi itu di secarik kertas di timbunan sampah dekat gudang percetakan buku yang dijaga oleh bapakku. Tak jarang juga, bapak memberi aku buku-buku yang tidak utuh, yang cetakannya terbalik atau yang lusuh dan bau kutu. Meski begitu, tetap saja buku-buku itu kubaca daripada aku bermain dengan kubangan lumpur yang semakin keruh. Sampai-sampai oleh beberapa temanku, aku dibilang sok pintar, sok gaya. Anak tukang jual gorengan dan satpam saja kok sukanya baca buku. Setiap selesai membaca satu buku, biasanya aku langsung berlari ke jembatan pertigaan di ujung Jalan Soekarno-Hatta itu. Dan yang selalu terlihat di bawahnya, barigade petak-petak kardus kuyu tanpa sungging. Lantas, penatku menggemuruh. Luka.

* *** *

“Siang ini, giliran Partai Kelinci yang berkampanye dengan melakukan pawai di kawasan Panjaitan sampai Soekarno-Hatta. Menurut rencananya pawai akan  diakhiri dengan hiburan panggung musik dangdut koplo di bekas Lapangan Cemara, yang sekarang telah menjadi GOR. Cemarandana. Sekian, kilasan kawat kampanye. Disiarkan langsung oleh Radio Republik-republikan dari lokasi pawai.”
Ada gerah yang lewat mengilhami beku. Mess ini terasa begitu pekat dan membuatku ingin menjerit. Lariku hendak bersuara, “Kami –anak– ingin mendongengimu tentang cerita malaikat suci yang tidak berwarna-warni. Tolonglah dengar kami?!!”. Kemasi nyawamu dengan hendak ini, kemudian bergegaslah!.
“Rikar....., Rikar! Tunggu! Kau hendak pergi kemana? Siang hari tak boleh keluar dari mess, kau benar-benar bisa dipecat Om A Hong nanti! Tunggu, Rikar!”
“Biar Mona, aku harus lari, lari, berlariii...! Aku ingin Bapak-Ibu  Partai itu tahu, bahwa aku-kami– para anak adalah rakyat, R-A-K-Y-A-T!!!!!”
“Rikaaaaaarrr.....!!!”

* *** *

Satu buku lagi selesai kubaca hari ini, jembatan pertigaan Soekarno-Hatta menungguku. Memang, aku tak akan dapat memetaki langit apalagi menyembunyikannya untuk diriku sendiri. Tapi, tetap aku harus lari, lari, berlariii...! Untuk meneriaki kekuasaan-kekuasaan yang makin pandai berdongeng itu,  bahwa aku-kami– para anak adalah rakyat,  R-A-K-Y-A-T!!!!!”.
Gempita suara kosong lambang-lambang Partai Kelinci menguapkan sementara barigade petak-petak kardus kuyu di bawah pertigaan jembatan. Dan penat yang luka tetap berteriak, meminta. “Tolong, dengarkan kami!!!”.
Aku yang datang tergesa, seolah telah bersiap mereinkarnasi leksikal-leksikal menjadi batu. Tidak dengan seru, tidak, tidak! Belum sempat dengan seru, luka...ku sudah, re....sah!

* *** *

“Selamat sore, kilasan kawat kampanye sore ini memberitakan bahwa dalam kampanye Partai Kelinci tadi siang telah jatuh dua orang korban. Korban pertama adalah seorang perempuan, 17 tahun, dengan Kartu Identitas Penduduk bernama Rikar Wanimardika yang dalam kampanye di GOR Cemarandana berusaha untuk menaiki panggung secara paksa, yang langsung diamankan Satgas Partai Kelinci. Malangnya, perempuan ini tergelincir ketika dipaksa turun oleh Satgas, kepalanya terantuk besi pengaman panggung dan langsung meninggal dunia. Sedangkan korban kedua adalah anak laki-laki diperkirakan berumur 15 tahun, yang sedang melepas bendera-bendera dan poster-poster Partai Kelinci  di pertigaan jembatan Soekarno-Hatta yang ternyata telah menutupi pemandangan kumuh petak-petak rumah kardus di bawah jembatan. Dan kemudian memicu amarah salah seorang aktivis Partai Kelinci yang sedang berpawai, yang lalu memukuli si anak laki-laki dengan tonggak bambu bendera sampai babak belur. Anak itu sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi setelah tiba di rumah sakit, korban meninggal dunia. Satu-satunya identitas si anak adalah secarik kertas berisi puisi yang terselip di saku celana pendeknya dengan judul ‘batu II’. Sekian, berita akhir kilasan kawat kampanye. Disiarkan langsung oleh radio Republik-republikan dari lokasi kejadian. Selamat petang.”
Surabaya, 28 Maret 2004


Ket: Akek-akek = orang tua-orang tua yang kaya tapi kesepian
Zonder = tanpa
Lajeungan = layangan (bahasa Madura)
Long Allen, Stout, Cassberg, Martil, Strobe = semuanya adalah nama-nama atau jenis-jenis minuman keras yang mengandung alkohol
Gobak Sodor = permainan anak-anak di Jawa, yang dimainkan di tanah lapang dengan cara berusaha menerobos masuk kotak-kotak yang digambar di atas tanah, yang masing-masing kotak dijaga oleh satu orang
Patil Lele = permainan anak-anak di Jawa, biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, permainannya menggunakan tongkat kayu sepanjang lengan tangan dan sepotong kayu pendek sebagai sasaran untuk dilempar dari lubang yang dibuat di atas tanah
Engkle = permainan anak-anak di Jawa yang biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan dengan cara melompati bidang-bidang garis yang dibuat di atas tanah lapang, sembari menggeser sebuah kereweng (pecahan batu/genting rumah)

                            



















Tingkatkan ekonomi daerah

Yuk, Ikut Meningkatkan Ekonomi Daerah!
Ekonomi daerah atau perekonomian daerah adalah kemampuan ekonomi tiap daerah yang dapat diukur dari pendapatan daerah, rencana pengeluaran/anggaran  belanja daerah dan tingkat pendapatan per kapita daerah tersebut.
Daerah yang maju adalah daerah yang tingkat perekonomian daerahnya tinggi. Biasanya daerah-daerah yang pandai mencari dan meningkatkan pendapatan daerahnya, dikatakan sebagai daerah yang maju. Sebab itu berarti pula, pembangunan daerahnya terus meningkat dan berkembang. Fasilitas-fasilitas dan prasarana publik makin  diperbanyak serta diperbaiki, seperti perpustakaan daerah, taman-taman kota, daerah hijau, hotspot area, fasilitas kesehatan, ruang terbuka hijau serta jalan-jalan umum.
Ekonomi daerah yang baik juga berarti peradaban dan kebudayaan masyarakatnya dapat pula ikut membaik. Sehat badannya, cerdas pikirannya, baik ekonominya, makin majulah daerahnya. Para penduduknya pun memiliki kesempatan, dana, waktu dan fasilitas untuk mengembangkan kemampuan.
Tips Untuk Ikut Meningkatkan Ekonomi Daerah
Tentunya kita tak mau ketinggalan untuk ikut meningkatkan ekonomi daerah kita masing-masing. Caranya, gampang saja. Asal kita bertekat kuat, yakin dan tak pantang menyerah. Keberhasilan pun menanti di depan mata.
Berikut adalah tips untuk ikut meningkatkan perekonomian daerah, sekaligus untuk meningkatkan pendapatan dan tingkat perekonomian  pribadi kita:
1.    Buka usaha. Kita dapat membuka usaha apa saja yang kita bisa dan inginkan. Tentu saja, usaha itu harus dijalankan dengan serius, sesuai aturan yang berlaku, berprofit dan dapat menambah lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar kita.
Maksud saya ‘sesuai dengan aturan yang berlaku’ adalah usaha yang kita buka harus punya tempat usaha yang tidak melanggar aturan (jangan di badan jalan atau di atas kali/sungai), usaha kita pun harus mau membayar pajak, mengurus surat-surat dan ijin usaha ke instansi terkait.
Pokoknya kalau usaha kita berjalan baik, semua kerepotan yang di atas, pasti terbayar lunas.
2.    Promosikan daerah kita. Kita pun bisa jadi duta untuk daerah kita, tanpa perlu ikut pemilihan duta wisata,cak dan ning atau raka raki atau semua yang semacamnya.
Kita bisa menjadi pemandu wisata untuk orang-orang di luar daerah kita (kita dapat uang, daerah kita pun pendapatannya bertambah dari bidang wisata). Caranya ajak saja kenalan-kenalan dari luar daerah untuk berkunjung, beri penjelasan tentang potensi wisata, potensi belanja atau potensi daerah kita yang lain.
Buatlah agar mereka tertarik untuk berkunjung, kemudian kita tinggal bersiap untuk menjadi tuan rumah yang baik.
3.    Temukan kerajinan khas daerah kita. Ayo tingkatkan kreativitas untuk dapat menjadikan sumber daya alam atau manusia di lokal daerah kita untuk membuat kerajinan khas.
Misalkan daerah kita adalah penghasil kelapa, maka selain buah-buah kelapanya dijual untuk komoditas pasar, batok-batoknya yang biasanya dibuang dan menjadi limbah, bisa kita ubah menjadi berbagai barang kerajinan yang menarik.
Atau jika di daerah kita ada bahasa khas yang di daerah lain tidak ada dan pastinya unik. Dapat kita abadikan dengan mencetaknya di atas kaos atau tas untuk dijadikan oleh-oleh yang keren.
4.    Jaga dan lestarikan potensi alam. Banyak daerah yang memiliki wisata alam yang indah dan menakjubkan. Tak jarang pula yang hanya bisa datang untuk merusaknya. Tugas kita juga lah untuk ikut melestarikan. Bukankah suatu hari nanti kita pun ingin, anak cucu kita menikmatinya juga.
Bahkan sambil menjaga daerah wisata yang kita punyai, kita juga bisa membuka berbagai usaha di daerah wisata itu. Tentu saja dengan menaati aturan dan prosedur yang berlaku dan telah ditetapkan pemerintah daerah.
Jadi anak daerah, bukan berarti kurang keren. Asalkan mau, daerah kita pun bisa mentereng, seperti kota-kota besar lainnya. Jadi, kembangkan dirimu untuk mengembangkan ekonomi daerahmu. Jangan hanya jadi mahluk urban!!! Lakukan yang terbaik untuk daerahmu. Selamat Berjuang!

Bisnis rajutan

Bisnis Kreatif: Rumah Rajut
Kreativitas bukanlah sebuah bim salabim, yang bisa terwujud begitu saja. Perlu usaha, belajar, kerja keras, ketekunan, ketelitian dan kecintaan. Tanpa itu semua, mustahil orang dapat berkreasi membuat apapun wujud kreatifitas itu. Salah satu kegiatan kreatif itu adalah merajut. Namun, rasanya menjadi sayang jika kreativitas atau ketrampilan itu berhenti di tempat, akan lebih baik jika kita mampu mengembangkannya menjadi sebuah bisnis terpadu, yaitu dengan membuat rumah rajut.
Rumah rajut adalah sebuah bentuk usaha yang dapat kita jalankan seorang diri ataupun bersama relasi/kawan. Usaha ini tentu saja berkaitan dengan dunia rajut merajut, sebuah ketrampilan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Sebab, diperlukan hal-hal khusus untuk merajut, termasuk peralatan, perlengkapannya dan teknik-teknik melakukannya.
Tebar Ilmu Menuai Rupiah
Belajar sesuatu kepada ahlinya adalah yang terbaik untuk mendapatkan ilmu yang terbaik pula, maka hasil akhirnya nanti pun kita berharap mendapat yang terbaik. Itulah, salah satu alasan kita membuka usaha kursus dengan nama rumah rajut. 
Pertama-tama kita harus menentukan terlebih dahulu, tentang  waktu kursus, biaya kursus, para pengajarnya, kurikulum kursus, materi kursus, perlengkapan dan peralatan kusus, dan terakhir teknis pendaftaran anggota kursus.
Waktu kursus dapat kita buat dengan jadwal yang sudah baku, atau kita sediakan juga jadwal khusus yang diatur sendiri oleh anggota kursus dengan ketentuan kita memiliki tenaga pengajar yang cukup. Selain itu, dengan memberi layanan kursus privat yang waktu dan tempatnya ditentukan sendiri oleh calon anggota kursus, maka tarif kursus dengan harga khusus yang nilainya lebih tinggi dari biaya kursus regular atau normal, dapat kita kenakan pada mereka.
Biaya kursus pun perlu kita tetapkan dengan cermat dan rinci. Selain besaran biayanya, tentukan pula cara pembayarannya. Apakah langsung dibayar lunas saat awal mendaftar ataukah boleh dicicil pembayarannya. Apakah biaya kursus dikenakan hanya murni untuk pembayaran kursus ataukah termasuk perlengkapan dan penggunaan peralatan kursus. Jika memang, perlengkapan kursus wajib dibawa sendiri oleh peserta kursus, tak ada salahnya juga jika kita menjual atau menyediakan perlengkapan tersebut.
Berikutnya adalah tenaga pengajar yang harus kita persiapkan dengan baik. Tenaga pengajar haruslah orang yang telaten, sabar, dan jelas dalam memberikan arahan atau pengajaran. Jika memang rumah rajut, kursus yang kita buka, belum begitu banyak pesertanya, maka akan lebih baik jika kita sendiri yang menjadi pengajarnya. Tekankan pula pada para pengajar, bahwa tidak semua orang memiliki bakat dalam hal merajut. Tetapi bagaimana pun karakter peserta kursus, si pengajar harus mampu menjadikannya bisa merajut meski belum dapat menjadi ahli.
Kurikulum dan materi kursus juga menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Kita harus mengetahui tahap demi tahap materi yang diajarkan. Dengan sistematika yang bagus, peserta kursus akan dapat menguasai materi dengan cepat serta baik juga. Bukankah jika para peserta merasa mendapat ilmu yang baik dan bermanfaat, mereka akan menularkan informasi tersebut pada kenalan ataupun teman-temannya.
Rumah Rajut Selain Kursus, Jadi Toko pun Bisa
Selain untuk tempat kursus, rumah rajut ini dapat kita gunakan sebagai toko maupun galeri. Toko disini adalah menjual berbagai perlengkapan dan peralatan untuk merajut, atau jika memungkinkan kita juga dapat menjual berbagai keperluan seputar jahit menjahit dan kerajinan tangan.
Yang istimewa lagi, kita pun dapat menjadikan rumah rajut sebagai galeri. Ya, layaknya galeri lukisan yang menjual dan memajang lukisan. Rumah rajut pun dapat menjadi galeri sebagai tempat untuk memamerkan, menjual ataupun untuk mengelola sebuah pameran hasil rajut.
Mari, merajut mimpi di rumah rajut!

19 Mar 2012

Jurnalistik sastra

Penulisan Jurnalistik Sastra, Jurnalisme Gaya Baru
Menulis itu sama dengan bertutur, yakni mengungkapkan, menceritakan, menyampaikan ulang gagasan, ide, pikiran, ataupun konsep kepada orang atau pihak lain. Jika bertutur mengunakan bahasa lisan, maka menulis menggunakan bahasa tulis. Menulis untuk konsumsi publik atau orang banyak pada media massa, membutuhkan pengetahuan penulisan jurnalistik yang baik, agar apa yang ditulis memiliki obyektivitas, keakuratan dan kebenaran.
Padat berisi, ringkas dan jelas, begitulah biasanya isi dari penulisan jurnalistik. Karena memang tujuan mayoritas dari sebuah surat kabar atau majalah adalah memberikan informasi dan berita dengan cepat, beraneka, singkat tapi padat kepada pembacanya. Sehingga para wartawan atau jurnalis melakukan penulisan dengan semangat yang sama.
Tetapi kemudian berkembanglah sebuah gaya penulisan jurnalistik yang berbeda, the new journalism (jurnalisme baru).  Gaya penulisan jurnalisme satrawi yang enak dibaca dan diulas lebih mendalam dengan tetap menyajikan fakta sesuai data dan riset yang dilakukan si penulisnya. Inilah genre penulisan jurnalistik terbaru yang memberi nafas berbeda bagi dunia jurnalistik.
Sejarah Penulisan Jurnalistik Sastra
Pada tahun 1960, seorang wartawan sekaligus novelis, Tom Wolfe mengenalkan pada dunia tentang bentuk penulisan jurnalistik dengan gaya sastrawi, yang hasilnya menjadi lebih enak dibaca, dan lebih meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Berikutnya, pada 1973 Tom Wolfe dan E.W. Johnson menjadi editor penerbitan buku antologi narasi-narasi jurnalistik terkemuka kala itu, yang diberi judul  The new Journalism.
Banyak sebutan untuk penulisan jurnalistik gaya baru ini. Tetapi di Indonesia lebih dikenal dengan nama Jurnalisme Sastra. Salah satu majalah yang berorientasi pada jurnalistik sastra adalah Pantau. Melalui majalah inilah orang Melayu, khususnya Indonesia mengenal jurnalisme sastra atau jurnalistik bergaya naratif.
Jurnalisme Sastra Tetap Berdasar Fakta
Bukan berarti karena disebut jurnalisme sastra, maka penulisan jurnalistik bergaya naratif ini boleh menggunakan data yang asal-asalan atau bahkan dibumbui imajinasi. Apapun bentuknya, kegiatan jurnalistik itu harus berdasar fakta, fakta, dan fakta, tidak lain.
Jurnalisme sastra pun tidaklah sama dengan novel atau fiksi yang berdasarkan kisah nyata. Sebab yang dikedepankan disini adalah pelaporan fakta berita, hanya memang disajikan lebih mendalam. Maksudnya, ini bukan penulisan jurnalistik yang hanya sekedar melaporkan seseorang melakukan apa, tetapi juga masuk ke ranah psikologis yang bersangkutan dan menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu.  Laporannya harus panjang, utuh (tidak terpecah ke dalam beberapa laporan, dan menyentuh. Sebab di dalamnya ada fakta, ada karakter, ada babak, ada adegan, dan ada konflik.
Jurnalisme sastra juga bukan reportase yang ditulis dengan kata yang puitis, sebab memang seringkali orang salah menilai. Narasi memang boleh puitis, tetapi tidak semua tulisan yang berbentuk prosa dan puitis adalah narasi.
Fakta dalam jurnalisme sastra pun harus diverifikasi kebenarannya, sebab verifikasi adalah inti dari kegiatan jurnalistik yang obyektif dan berdasar fakta.
Hal-hal yang Wajib Diperhatikan
Selain harus berdasarkan fakta, penulisan jurnalistik sastra juga harus memiliki sebuah konflik. Tetapi konflik itu bukan sebuah khayalan atau imaji dari sang penulis. Konflik itu harus nyata sesuai fakta di lapangan. Mengapa konflik dibutuhkan dalam penulisan ini, sebab tulisan yang panjang membutuhkan konflik untuk mempertahankan daya tariknya.
Sengketa atau pertikaian antar kelompok, konflik pribadi seseorang dengan hati nuraninya, atau pertentangan nilai-nilai di masyarakat dengan seseorang.  Intinya, narasi jurnalistik ini harus dibangun dengan konflik yang menjadi ruhnya.
Selain itu harus terdapat pula karakter. Karakter-karakter merupakan pengikat cerita, karakter utama yang ditulis sebaiknya adalah orang yang terlibat sangat erat dalam konflik. Untuk mendukung penulisan karakter ini, Anda harus memiliki akses untuk para karakter. Bisa berupa foto, hasil wawancara, dokumen-dokumen, buku harian, kerabat, gambar, musuh, kawan, korespondensi dan lain sebagainya.
Yang berikutnya adalah emosi. Kemunculan emosi dalam narasi jurnalisme sastra bukan juga dibangun dari adanya khayali tingkat tinggi dari si penulis. Tetapi emosi nyata yang terdapat dalam konflik atau pergulatan batin si tokoh yang menjadi karakter. Bisa berupa kekaguman, kebencian, kesedihan, pengkhianatan atau rasa cinta.
Terdapat perjalanan waktu dalam sebuah laporan jurnalistik sastra. Penulisannya, pengumpulan data yang berdasarkan fakta itu akan memakan waktu yang bukan hanya seminggu, tetapi bisa berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Narasi serupa film video yang berputar, bukan hanya seperti foto sekali jepret jadi.
Yang paling penting lagi adalah unsur kebaruan. Dengan menggeser sedikit saja sudut pandang sebuah peristiwa dari sisi yang berbeda, maka kebaruan itu muncul dengan sendirinya.
Membuat penulisan jurnalistik sastra harus memiliki kekuatan reportase dan naratif, yang terjalin dalam sebuah bentuk laporan yang mendalam, memikat dan menggigit. Bagi saya, ini adalah sebentuk tulisan jurnalistik yang harus menyisakan bekas untuk dijadikan renungan. Bukan hanya sekedar berita yang sekali baca kemudian dibuang dan jadi bungkus kacang.   

definisi sosial budaya

Apakah Definisi Sosial Budaya?
Memecahkan masalah-masalah sosial amat penting, untuk itu kita perlu mempelajari dan mengetahui ilmu sosial dasar dan ilmu budaya dasar. Perlu pendekatan multidisplin yang integratif untuk memecahkan masalah sosial budaya yang ada, karena memang masalah sosial seringkali kompleks dan memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu.
 Definisi Sosial Budaya
Sebelum itu semua, kita haruslah mengetahui terlebih dahulu definisi sosial budaya. Untuk memperoleh definisi sosial budaya, kita dapat melihatnya secara terpisah terlebih dahulu. Yang pertama definisi sosial, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia milik W.J.S Poerwadarminta, sosial ialah segala sesuatu yang mengenai masyarakat atau kemasyarakatan atau dapat juga berarti suka memperhatikan kepentingan umum (kata sifat).
Sedangkan budaya dari kata Sans atau Bodhya yang artinya pikiran dan akal budi. Budaya ialah segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa dan karsa. Dapat berupa kesenian, pengetahuan, moral, hukum, kepercayaan, adat istiadat ataupun ilmu.
Maka definisi sosial budaya itu sendiri adalah segala hal yang dicipta oleh manusia dengan pemikiran dan budi nuraninya untuk dan/atau dalam kehidupan bermasyarakat. Atau lebih singkatnya manusia membuat sesuatu berdasar budi dan pikirannya yang diperuntukkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Manusia, Mahluk Sosial Pencipta dan Pengguna Kebudayaan
Terciptanya sebuah kebudayaan bukan hanya dari buah pikir dan budi manusia, tetapi juga dikarenakan adanya interaksi antara manusia dengan alam sekitarnya. Bahkan dalam agama, dikatakan manusia sebagai khalifah atau pemimpin di bumi ini. Maka ia pun dianugerahi daya cipta, rasa dan karsa yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta.
Sebuah dialektika terjadi disini, sebab kebudayaan itu ada karena diciptakan oleh manusia, dan manusia hidup di antara kebudayaan yang diciptakannya sendiri. Oleh karenanya kebudayaan akan terus ada jika manusia pun ada.
Definisi Sosial Budaya pun dapat berkembang dan tercipta  karena adanya kaitan erat antara kebudayaan dan sosial itu sendiri. Perubahan kebudayaan bisa saja terjadi akibat adanya perubahan sosial dalam masyarakat, begitu pula hal yang sebaliknya pun dapat terjadi.
Peran dan Dampak Negatif Sosial Budaya
Kita pun perlu mengetahui peran dan dampak negatif untuk lebih memahami definisi sosial budaya. Jadi, kebudayaan pun memiliki peran dalam kehidupan sosial manusia, diantaranya adalah:
1.    Sebagai pedoman dalam hubungan antara manusia dengan komunitas atau kelompoknya
2.    Sebagai simbol pembeda antara manusia dengan binatang
3.    Sebagai petunjuk atau tata cara tentang bagaimana manusia harus berperilaku dalam kehidupan sosialnya.
4.    Sebagai modal dan dasar dalam pembangunan kehidupan manusia.
Tidak berarti pula penciptaan sosial budaya itu kemudian tak memiliki dampak negatif. Bila kebudayaan yang ada kemudian menimbulkan ekses negatif bagi kehidupan sosial adalah sesuatu yang perlu kita pikirkan ulang, jika ingin menciptakan sebuah budaya.
Beberapa dampak negatif kebudayaan bagi kehidupan sosial manusia, antara lain:
1.    Menimbulkan kerusakan lingkungan dan kelangsungan ekosistem alam
2.    Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang kemudian menjadi penyebab munculnya penyakit-penyakit sosial, termasuknya tingginya tingkat kriminalitas.
3.    Mengurangi bahkan dapat menghilangkan ikatan batin dan moral yang biasanya dekat dalam hubungan sosial antar masyarakat.
Contoh: Situs jejaring sosial yang banyak bermunculan membuat orang tak memiliki kebutuhan untuk bertemu langsung. Sehingga terkikislah kebutuhan berkumpul dengan ilusi pertemuan di dunia maya.
Tidak menutup kemungkinan pula suatu hari nanti, kehidupan sosial manusia dapat musnah karena budaya yang mereka ciptakan sendiri. Atau, memang begitulah terciptanya kiamat yang telah ditakdirkan terjadi. Mari, berpikirlah!



    

6 Jan 2012

Legenda Laksamana Cheng Hoo

Legenda Laksamana Cheng Hoo 

Pada tahun 1405, sebagai panglima armada muslim yang gigih dan saleh, Laksamana Cheng Hoo memulai pelayarannya secara berturut-turut dengan tujuh kali mengarungi Samudra Hindia. Selama 28 tahun (1405 – 1433), ia telah memimpin awak kapal berjumlah lebih dari 27.800 orang yang terlatih sempurna dan disiplin. Misi utamanya adalah melangsungkan dan memperbanyak kunjungan muhibah yang timbal balik antara Tiongkok dengan negara-negara kerajaan di Asia-Afrika dan sekitarnya, mempererat hubungan kebudayaan dan perdagangan antar bangsa, merintis dan memperlancar jalur dan frekuensi lalu lintas pelayaran di antara kawasan tersebut.
Armada ini telah berhasil merintis jalur pelayaran langsung dari Tiongkok ke Samudra Hindia, Laut Merah, dan pantai timur Benua Afrika. Pelayarannya telah menelusuri lebih dari 50 negara kerajaan dan region/wilayah yang dikunjunginya. Laksamana Cheng Hoo telah membuka 40 lebih rute pelayaran baru antar benua, negara dan bangsa. Ia telah menempuh lebih dari 160.000 mil laut atau sama dengan 296.000 km lebih. Ia telah berhasil mengumpulkan berbagai data seperti peta dan skema pelayaran yang signifikan sebagai gambar peta pertama di dunia yang akhirnya turut memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi maritim di bumi, dan menjadikannya sebagai sumbangan terbesar ilmu pengetahuan maritim. Di bawah naungan Laksamana Cheng Hoo, sejarah pembaruan dan kemajuan navigasi pelayaran dunia mencapai puncaknya pada saat itu.
Laksamana Cheng Hoo telah mencurahkan segenap jiwa raganya dalam ilmu navigasi pelayaran, dan berhasil merintis “Jalan Sutera dan Keramik”, memantapkan hubungan saling pengertian dan persahabatan antara Tiongkok dengan berbagai negara kerajaan di Samudera Hindia, serta meningkatkan kemakmuran dan perkembangan ekonomi antar Bandar atau pelabuhan dan kota-kota di Asia Tenggara. Laksamana Cheng Hoo juga pandai menengahi dan mengambil tindakan atas pertikaian tentang masalah agama, seperti yang terjadi pada anak buah kapalnya beratus-ratus tahun silam.
Kisah Laksamana Cheng Hoo sebagai Kasim Sam Po “tujuh kali mengarungi Samudera Hindia” pada kurang lebih 600 tahun silam merupakan prestasi yang luar biasa sepanjang sejarah. Di antara negara-negara kerajaan yang pernah dikunjunginya di nusantara adalah Majapahit di Jawa, Samboja di Palembang, Samudera Pasai di Aceh, Semarang di Jawa Tengah, dan Surabaya di Jawa Timur merupakan tempat bandar/persinggahan terpenting yang selalu dikunjunginya.
Akhirnya, nama Muhammad Cheng Hoo dijadikan nama masjid pertama di Indonesia yang terletak di Surabaya dan berarsitektur Tiongkok untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo sebagai bentuk penghormatan kaum muslim, khususnya muslim Tionghoa.